Mi Tiau Bireuen, Dicari dan Diminati…

1622469Mencicipi-Mie-Tiau780x390

Satu lagi yang lezat, gurih dan mengenyangkan dari kuliner asal Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Mi tiau atau lebih dikenal sebagai kwetiau, sebuah makanan yang selama ini dikenal sebagai masakan China. Berbahan dasar tepung beras yang dibentuk menjadi mie persegi panjang, lantas diorak-arik dengan telur yang dilengkapi udang, baso, cumi maupun daging.

Selain populer, di Bireuen terbilang mudah menemukan warung yang menjual mi tiau—lazim disebut di Aceh—oleh penjual keturunan Tionghoa maupun penduduk pribumi. Harga juga relatif sama, yakni Rp 10.000 per saji mi tiau telur dan Rp 13.000 untuk sepiring mi tiau udang berukuran sedang.

Tak hanya warga setempat, pendatang dari luar Bireuen pun kerap memburu kuliner satu ini setiap singgah. Apalagi pada sore dan malam hari yang secara khusus rak-rak mi tiau ini beroperasi. Jejeran pembeli mulai dari bungkus sampai makan di tempat, membutuhkan waktu lama mengantre mendapatkan pesanan mereka.

Terdapat sedikitnya tiga warung pedagang tionghoa yang menyediakan mi tiau setiap harinya, seperti di Warung Aon, Riang dan Mawar Resto, ditambah beberapa pedagang lokal Aceh yang penjualan mi tiaunya tak kalah laris, yakni di Warkop Arie depan komplek terminal dan warung sederhana di kawasan Cot Keutapang.

Penuturan Hopheng, warga Medan, yang menyempatkan diri singgah ke Bireuen untuk menikmati mi tiau, rasa yang ditawarkan tak jauh beda dengan mi tiau asal Medan. “Kendati kwetiau ini terkenal paling enak di Medan, tapi punya Bireuen tetap saya rindukan setiap melintas ke Banda Aceh,” ungkapnya, Sabtu (11/1/2014).

Tak hanya legit, mi tiau atau kwetiau Bireuen memiliki citarasa dan aroma tersendiri yang menggugah selera pengunjung apalagi untuk mengganjal perut yang lapar. “Karena terbuat dari tepung beras, makan mi tiau ini cocok sebagai pengganti nasi yang kenyang dan sehat,” tambahnya.

Komentar senada diungkapkan rekannya, Paulus, pengusaha asal Medan. Jaminan halal merupakan perbedaan utama mi tiau asal Bireuen dengan Medan. “Walaupun rasa sedikit berbeda, tapi halal bagi warga muslim,” tambahnya.

Cut Raja, seorang pedagang mi tiau menyebutkan, resep dasar mi tersebut terbilang sederhana alias tak rumit. Kendati mahal, setara dengan harga jual yang diminati pelanggan. Yakni berbahan dasar kwetiau, daging ayam, telor, udang, tauge, sawi dan rempah-rempah bumbu giling.

“Asal semua bahan ditumis baik dan harum, tinggal dicampur dan ditambahkan udang sebagai pelengkap rasa,” ujar Cut.

Diakuinya, dalam sehari dia bisa menghabiskan hingga 15 kilogram mi tiau, bahkan meningkat pada hari-hari libur dan akhir pekan.

Bersumber dari : kompas

 

Melihat Sejarah Indonesia Dari Foto IPPHOS

Bung Karno diantara para pejabat dan masyarakat umum

Bung Karno diantara para pejabat dan masyarakat umum

Pada masa Kemerdekaan Republik Indonesia, karya fotografi yang merekam peristiwa sejarah dibuat oleh Kantor Berita IPPHOS (Indonesia Press Photo Service). Foto-foto karya IPPHOS dipamerkan dari tanggal 1-8 Maret 2014 di Bentara Budaya Yogyakarta.

Pameran foto ini sekaligus launching buku IPPHOS yang berjudul Remastered Edition karya Yudhi Soerjaatmodjo, mantan wartawan dan editor majalah Tempo. Sejak Januari 1994, setelah dia pensiun dari Tempo sampai Desember 1999 Yudhi menjadi kurator Gallery Foto Jurnalistik Antara.

Foto-foto yang dipamerkan Kantor Berita IPPHOS bukan hanya saja merekam peristiwa, tetapi sekaligus memproduksi sejarah. Foto IPPHOS beserta fotografernya adalah salah satu dari hasil produksi sejarah itu.

 

Kantor Berita IPPHOS beserta fotografernya

Kantor Berita IPPHOS beserta fotografernya

(Alm) Soebadio Sastrosatomo, salah seorang pejuang Kemerdekaan RI, pernah menulis buku berjudul “Soekarno adalah Indonesia dan Indonesia adalah Soekarno”. Apa yang ditulis Soebadio dan melihat karya foto dari IPPHOS, rasanya kita bisa mengerti mengapa Soebadio memilih judul bukunya seperti itu. Karena dalam momentum penting Indonesia, Soekarno selalu ada dan dan dengan jeli IPPHOS mengintip dari lensa kamera.

Ada foto yang terkesan human, tanpa menanggalkan unsur tokoh. Dua tokoh Sri Sultan Hamengku Buwana IX dan Sutan Sjahrir sedang berbincang santai laiknya pertemuan antarsahabat. Pada masa revolusi para tokoh, meski berbeda ideologi, bisa saling berjumpa, berdialog dan bersahabat.

Suasana Pameran foto di Bentara Budaya Yogya

Suasana Pameran foto di Bentara Budaya Yogya

Sri Sultan Hamengku Buwana IX adalah seorang raja Jawa yang penuh berwibawa dan Sutan Sjahrir adalah seorang sosialis, yang memimpin Partai Sosialis Indonesia (PSI), dalam foto itu terkesan akrab.

Foto karya IPPHOS tidak hanya membidik peristiwa politik kenegaraan, tapi juga peristiwa lainnya. Oscar Motuloh, kurator pameran foto menyebut, IPPHOS merambah pada obyek lain, yang juga memberi citra Indonesia, seperti peristiwa olah raga, keseharian, feature, potret, sosial, seni dan budaya.

Bersumber dari : Ons Untoro – Tembi Rumah Budaya

Puro Pakualaman Yogyakarta Gelar Pentas Seni Rakyat Sebulan Dua Kali

Setiap hari Minggu pekan ke-2 dan ke-4 dalam sebulan, di halaman Sewandanan Puro Pakualaman Yogyakarta, yang berlokasi di Jalan Sultan Agung, selalu digelar kesenian rakyat, pada pukul 14.00—17.00 WIB.

Atraksi sembur api dari mulut

Atraksi sembur api dari mulut

Berbagai seni tradisi rakyat Yogyakarta dipentaskan di tempat ini. Selain untuk menghibur masyarakat Yogyakarta dan para wisatawan asing dan Nusantara, pentas ini untuk mengenal kembali kesenian rakyat yang telah terpinggirkan dan sangat jarang dikenal oleh masyarakatnya. Selain itu, pentas ini bertujuan untuk mengenalkan kepada masyarakat, betapa sangat beragamnya kesenian rakyat yang lahir dari rakyat, yang berakar dari akar budaya lokal.

Pentas seni tradisi rakyat di tempat itu setiap dua minggu sekali berganti-ganti, antara lain anggruk, jathilan, reyog, dolalak, dan krumpyung. Salah satu penampilan yang fenomenal dan disukai oleh masyarakat adalah kesenian jathilan, seperti yang ditampilkan pada Minggu, 25 Mei 2014.

Pasukan penari kuda lumping

Pasukan penari kuda lumping

Pada hari itu tampil dua grup, yaitu grup seni jathilan Siwi Karti Budaya yang berasal dari Kulonprogo, dan Turonggo Putri Sekar Arum, yang berasal dari Karang Tengah Wonosari Gunungkidul DIY. Setiap grup tampil dari kelompok musik, penari, pawang, dan tim pendukung.

Setiap grup menampilkan atraksi-atraksi yang mengandung unsur magis, seperti makan kaca semprong, makan gabah, bermain api, dan menyebur api dari mulut. Atraksi itu ditampilkan saat para pemain “ndadi”, artinya sedang on atau sedang kerasukan. Untuk kembali normal, biasanya mereka dibantu oleh pawang untuk memulihkan kesadarannya. Atraksi berbau magis ini amat digemari penonton.

Pemain yang kesurupan disadarkan oleh pawang

Pemain yang kesurupan disadarkan oleh pawang

Selain atraksi-atraksi tersebut, grup jathilan itu juga menampilkan tari-tarian yang diiringi dengan gamelan dan syair-syair Jawa, seperti Prau Layar, Sewu Kutha, Parangtritis, dan lainnya. Para penari biasanya menggunakan kuda kepang, sebagai pelengkap tariannya. Sebenarnya seni tradisi jathilan ini menggambarkan kisah prajurit yang sedang berlatih perang dan diambil dari cerita Panji, sebuah kisah yang berasal dari kerajaan sebelum Majapahit di Jawa Timur.

Pergelaran kesenian tradisi yang rutin diselenggarakan di Sewandanan Puro Pakualaman tersebut merupakan bagian perwujudkan dari keistimewaan Yogyakarta di bidang kebudayaan. Panggung tersebut juga diharapkan menjadi sarana untuk mengaktualkan kembali seni tradisi yang terpinggirkan.

Para penari melakukan persiapan sebelum tampil  di Alun-alun Puro Pakualaman Yogyakarta

Para penari melakukan persiapan sebelum tampil
di Alun-alun Puro Pakualaman Yogyakarta

Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya

Kerapu Bakar Di Surabaya

Seperti halnya di Yogyakarta, di Surabaya ada banyak tempat untuk makan. Bermacam jenis warung atau restoran dan ada banyak pilihan kuliner. Ada tempat makan, yang setidaknya targetnya anak-anak muda dan keluarga, namun ada juga jenis warung untuk segala umur, atau tidak memiliki target khusus.

‘Kuliner Tembi’ yang kebetulan sedang di Surabaya menyempatkan mampir di tempat makan, yang dikenal dengan nama ‘D’Cost seafood’. Memasuki ruang makan ini, suasana bersih segera bisa terlihat. Lampunya terang dan meja serta kursi berjajar. Di dalam ruang makan ini, terlihat anak-anak muda sedang menikmati makanan dan ada yang menunggu pesanan. Selain anak-anak muda, tampak keluarga muda menjadi tamu ‘D’Cost’. Agaknya, target dari rumah makan ini adalah anak-anak muda dan keluarga muda.

“Bapak hendak pesan apa? “ tanya salah seorang pelayan mendekati, masih nampak muda.

Setelah melihat list menu, ‘kuliner Tembi’ memesan dua jenis kuliner yang berbeda, ialah Kerapu bakar dan sayur kacang tempe beserta minuman juice sirsak. Seorang pelayan mencatat pesanan tidak dengan kertas, melainkan dengan alat digital, sehingga pesanan langsung terkirim di dua tempat, yakni di kitchen dan di kasir. Dua tempat berbeda itu dengan sendirinya memiliki data dari pemesan. Tak sampai 15 menit pesanan segera datang.

Pilihan menunya memang bermacam-macam, ada udang bakar madu. Ada juga nasi goreng, bakmi goreng, aneka sambal, patin bakar dan pilihan ikan sejenis. Menunya memang tidak spesifik, karena di restoran lain tersedia pula menu yang sama. Demikian jenis minuman, di restoran dan warung-warung lainnnya tersedia. Barangkali yang membedakan hanyalah digitalisasi pesanan. Selain itu, sebagai warung anak-anak muda, tempatnya bersih dan memberi kesan cerah. Apalagi kursi dan meja makannya juga menambah suasana ruang makan menjadi tambah nyaman menikmati menu di D’Cost.

Kerapu bakarnya enak untuk dinikmati Dagingnya empuk dan rasa manis cukup dominan. Pesanan lain berupa sayur kacang yang dimasak dengan tempe yang sudah diiris-iris laikmya dimasak sebagai oseng-oseng tempe. Gurih dan pedas bercampur menjadi satu, sehingga terasa enak mentikmati menu di D’ Cost.

Di restoran ini, ‘Kuliner Tembi’ ditemani seorang teman yang tinggal di Surabaya dan sudah berulangkali makan di D’Cost. Dia mengkisahkan, mengenai harga teh panas yang murah, karena segelas teh manis hanya Rp 250, adalah upaya promosi. Karena biasanya, di warung-warung, satu gelas teh atau es teh seharga Rp 2000 atau Rp 2.500. Memberi harga segelas teh dengan harga Rp 250, orang sudah bisa saling cerita bahwa warung di D’Cost tidak terlalu mahal. Apalagi, satu piring nasi seharga Rp 1000 sekenyangnya. Karena kalau nambah nasi tinggal ambil sendiri.

Ruangannya bersih, tertata rapi. Membuat orang yang datang merasakan nyaman. Setelah selesai makan masih bisa berbincang dengan agak lama. Tidak perlu tergesa untuk pergi. Ruang makannya cukup luas. Untuk rombongan, misalnya 10-20 orang masih bisa muat dan tetap bisa menikmati dengan santai.

Untuk melayani konsumen, ruang makan yang bersih memang penting. Karena suasana bersih dan ditambah tata lampu menyala terang, orang akan mersa enak menikmati menu. Makan dalam kondisi ruang makan bersih, membuat perut menjadi tidak pernah merasa kenyang. Pada kali lain, jika ada waktu, kita bisa kembali menikmati menu makan di D’Cost.

Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya

Batu yang Berbicara Versi Sri Maryanto

Karya Sri Maryanto, “Berlian”

Karya Sri Maryanto, “Berlian”

Sebanyak 58 buah karya seni grafis yang menggunakan teknik lithografi karya Sri Maryanto, pegrafis Indonesia kelahiran 13 Mei 1976 yang sedang menyelesaikan studinya di Akademie der bildenden Kunste, Munich Jerman, digelar di Bentara Budaya Jakarta pada hari Kamis 28 Agustus 2014.

Kumpulan karya Sri Maryanto

Kumpulan karya Sri Maryanto

Karya yang dipertunjukkan diumpamakan sebagai sebuah catatan untuk tetap mengingat tentang segelintir pengalaman hidup sang pengrafis, juga tentang refleksi pemikirannya yang diharapkan dapat “berbicara” kepada penikmat seni.

Sri mengungkapkan bahwa lithografi adalah teknik yang merupakan cikal bakal dunia percetakan modern dan cukup sulit karena menggunakan batu sebagai medium cetaknya. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir atau bahkan lebih, arus besar seni rupa di Indonesia tidak terdengar ada pameran karya-karya yang menggunakan teknik lithografi.

Sri Maryanto

Sri Maryanto

Menurut Sri Maryanto hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan, alat dan material bahkan sumber daya senimannya sendiri. Karena sampai saat ini teknik lithografi di Tanah Air hanya terdapat di kampus Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung. Beruntunglah Sri bisa meneruskan keinginannya untuk lebih mempelajari teknik tersebut di Jerman karena selama kuliah di ISI Yogyakarta, hanya teori yang ia dapatkan.

Tayangan video tentang proses Sri berkarya dengan teknik lithografi

Tayangan video tentang proses Sri berkarya dengan teknik lithografi

Pameran malam itu juga diiringi oleh alunan biola lembut dari Marcella. Para pegunjung juga mendapat sajian visual berupa video pembuatan beberapa karya Sri Maryanto untuk menunjukkan bahwa kompleksitas proses berkarya lithografi sangat menyenangkan seperti proses belajar yang tidak ada habisnya.

Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya

Ayam Goreng Sentolo dan Es Adhem Ayem yang Sensasional

Bosan menyantap kuliner yang itu-itu saja ? Jangan khawatir, Warung Dhahar Pulo Segaran terus merilis kuliner-kuliner baru. Untuk bulan Agustus 2014 ini WD Pulo Segaran merilis menu promo berbahan baku ayam kampung yang dinamakan “Ayam Goreng Sentolo”. Sedangkan untuk minumannya dinamakan “Es Adhem Ayem”.

Ayam Goreng Sentolo, siap memanjakan lidah

Ayam Goreng Sentolo, siap memanjakan lidah

Dari namanya jelas pesan yang dikandungnya, yakni nuansa pedesaan. Sentolo adalah sebuah kota kecamatan di Kabupaten Kulonprogo. Di tempat inilah leluhur dari pemilik WD Pulo Segaran pernah tinggal. Namanya diterakan pada kuliner tersebut sebagai bentuk kenang-kenangan.

Ayam Goreng Sentolo adalah ayam goreng kampung yang berasal dari ayam muda (kemanggang). Jadi, dijamin dagingnya empuk dan belum “sepa” (hilang rasa khas daging ayam gurih-manis) seperti yang terjadi pada daging ayam tua. Nah, ayam kemanggang ini kemudian diungkeb (dimasak lama dan tertutup) dengan sekian bumbu rempah sehingga bumbu tersebut benar-benar meresap ke serat daging.

Ayam yang diungkeb ini kemudian digoreng dengan waktu yang cepat sehingga tekstur daging dan kulit ayam tidak mengeras seperti ayam goreng pada umumnya. Jadi, Ayam Goreng Sentolo ini memang khas empuknya. Terkesan cukup garing namun tetap empuk. Selain itu rasa dari sekian rempah yang digunakan meng-ungkeb demikian terasa. Sensasi rasa yang kaya segera menyergap lidah begitu mencabik daging dan mulai mengunyahnya.

Kelengkapan dari Ayam Goreng Sentolo ala WD Pulso Segaran Tembi Rumah Budaya ini adalah sambal ijo yang tidak kalah hebat rasaya. Sambal ijo ini memang sengaja ditampilkan demikian dengan bahan baku cabai hijau segar. Warna hijaunya alami dan sangat memikat selera. Pedas yang ditimbulkannya tidak serta merta membakar lidah dan memerihkan dinding usus. Bolehlah rasa pedas sambal ijo ini disebut sebagai pedas yang sedikit kalem. Perpaduan cabikan Ayam Goreng Sentolo dan cocolan sambal ijonya dijamin nagih di lidah. Tentu, kelengkapan lalapan sebagai penyegar dan kemantapan bersantap Ayam GorengSentolo tidak kami lupakan.

Es Adhem Ayem, bikin adem dan  ayem: klenyer-klenyer nyess !

Es Adhem Ayem, bikin adem dan
ayem: klenyer-klenyer nyess !

Bersantap Ayam Goreng Sentolo akan semakin lengkap jika ditemani Es Adhem Ayem. Es ini memang menimbulkan rasa adem sekaligus ayem (tenteram). Cincau (camcau) hijau yang menjadi andalan es ini dipadu sangat kompak dengan sirup, perasan air jeruk nipis segar, sprite, dan sentuhan samar-samar garam. Rasanya memang cukup luar biasa. Demikian pun aromanya. Sulit menggambarkan sensasi rasa dan aroma dari minuman yang tampak sederhana namun berasa juara ini.

WD Pulo Segaran mematok harga Rp 21.600 untuk seporsi Ayam Goreng Sentolo dan Rp 6.300 untuk Es Adhem Ayem. Harga yang sangat pantas untuk sebuah menu yang luar biasa.

Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya

Riwayat KH Ahmad Dahlan Mengisi Museum Yogyakarta

Sekolah Muhammadiyah di Kotagede Yogyakarta,

Sekolah Muhammadiyah di Kotagede Yogyakarta,

KH Ahmad Dahlan adalah salah satu putra asli Yogyakarta yang mendapatkan gelar pahlawan nasional dari pemerintah RI pada tahun 1961, dengan Surat Keputusan Presiden No 657. Ia adalah pahlawan nasional ke-3 dari daerah DI Yogyakarta, setelah Ki Hadjar Dewantara atau Suwardi Suryaningrat (1959) dan Suryopranoto (1959). Kedua yang disebut terakhir adalah tokoh penting yang berasal dari trah Dinasti Mataram Islam, khususnya dari Kadipaten Puro Pakualaman Yogyakarta.

Relief berdirinya Organisasi Muhammadiyah di Museum Perjuangan Yogyakarta

Relief berdirinya Organisasi Muhammadiyah
di Museum Perjuangan Yogyakarta

KH Ahmad Dahlan dengan nama kecil Muhammad Darwisy memperoleh gelar pahlawan nasional karena jasanya mendirikan organisasi Muhammadiyah pada 18 November 1912 dan sekaligus pelopor kebangkitan umat Islam di Indonesia. Organisasi tersebut berusaha keras mereformasi (tajdid) atau upaya mengadakan pembaharuan pengamalan kehidupan Islam di Indonesia, yang ingin dikembalikan kepada kemurnian sumber aslinya (Al Quran dan As-Sunnah). Sementara organisasi Muhammadiyah ini sendiri bergerak di bidang sosial, dakwah agama, pendidikan, dan kebangkitan kaum wanita (Aisyiyah).

 

Patung KH Ahmad Dahlan koleksi Museum Perjuangan Yogyakarta

Patung KH Ahmad Dahlan koleksi
Museum Perjuangan Yogyakarta

Lalu, pendirian cabang Muhammadiyah baru dikabulkan oleh pemerintah Belanda pada 16 Agustus 1920 dengan diterbitkannya Besluit No 40. Setahun berikutnya, pada tanggal 2 September 1921, pengajuan cabang Muhammadiyah di seluruh Nusantara baru disetujui pemerintahan yang sama dengan dikeluarkannya Besluit No 3.

Pada perkembangan dewasa ini, wilayah Muhammadiyah sudah menyebar ke Nusantara dan termasuk salah satu organisasi masyarakat yang terbesar, di samping Nahdlatul Ulama (NU). Demikian pula cakupan kegiatan juga sudah sangat kompleks, mulai dari pendidikan SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan sebagainya. Saat ini, kantor pusat Muhammadiyah berada di Yogyakarta.

 

Kongres Muhammadiyah di Yogyakarta Tahun 1912, minirama Koleksi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Kongres Muhammadiyah di Yogyakarta Tahun 1912, minirama
Koleksi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Itulah sebabnya, karena KH Ahmad Dahlan sangat berjasa bagi bangsa Indonesia dan sekaligus seorang tokoh yang ikut dalam pergerakan nasional, maka kisah pribadinya dan organisasinya diabadikan di berbagai museum sejarah perjuangan bangsa yang ada di Indonesia maupun di DIY. Dua kesejarahannya di antaranya diabadikan di Museum Benteng Vredeburg dan Museum Perjuangan, dalam bentuk relief, patung, buku, dan minirama visual (diorama).

Bersumber dari : Tembi Rumah Budaya

Orang terpendek ada di Filipina

Organisasi pencatat rekor dunia ( Guinness World Records) telah menyatakan bahwa  seorang pria asal Filipina yang memiliki tinggi 59.93cm sebagai pria terpendek di dunia.

Junrey Balawing yang berasal dari Mindanao mendapatkan sertifikat pengkauan sebagai pria terpendek di dunia dari lembaga itu saat merayakan ulang tahunnya yang ke-18.

Orang tua Balawing di sela-sela penyerahan sertifikat tersebut mengatakan pertumbuhan anaknya terhenti saat dia berusia dua tahun.

Aktivitas Junrey Balawing sendiri cukup terbatas karena kelainan yang dideritanya mengakibatkan dia sulit berdiri dan berjalan.

Namun warga di sekitar lingkungannya cukup membantu dan melindungi Junrey.

Orang tua Junrey Balawing juga mengatakan dokter tidak bisa memberi penjelasan mengenai penyebab berhentinya pertumbuhan Junrey.

Kelainan fisik ini memang hanya terjadi pada Junrey sementara ketiga saudara kandungnya dapat tumbuh normal.

Tinggi Junrey adalah 7 cm lebih pendek dari pemegang rekor sebelumnya, Khagendra Thapa Magar, yang berasal dari Nepal.

“Secara resmi dia adalah pria terpendek di dunia,” kata perwakilan Guinness World Records, Craig Glenday didepan saudara dan kawan Junrey sedang bergembira merayakan perayaan pesta ulang tahun di tempat kediamananya di Sindangan, Mindanao, Filipina Selatan.

Seperti diukutip dari AFP sejumlah simpatisan termasuk politisi memberikan hadiah uang kepada Junrey yang rencanannya akan digunakan untuk menambah tabungan keluarganya.

(bbc/bbc)

Bersumber dari : new.detik.com

Ingin Langgeng, Pasangan Ini Menikah Ulang 15 Kali

Jakarta – Ada berbagai cara untuk mempertahankan sebuah pernikahan. Pasangan asal California, AS ini punya trik yang unik. Mereka menikah ulang sebanyak 15 kali.

Ide untuk menikah ulang tersebut tercetus setelah Susan dan suaminya Evan Money menikah pada Juli 1997 lalu. Setelah pernikahannya, Susan berpikir berapa lama masa-masa bahagia bulan madu ini bisa bertahan. Dia juga bertanya-tanya, apakah dia dan suaminya bisa mempertahankan kemesraan di antara mereka.

“Kami berdua telah melihat keluarga dan pernikahan yang berantakan di sekeliling kami. Kami tentu tidak mau hal itu terjadi. Kami ingin pernikahan ini selamanya dan ingin memastikan kami berdua bahagia di dalamnya,” jelas Susan.

Pasangan Susan dan Evan kemudian melalui pesta ulang tahun pertama pernikahan mereka di Prancis. Saat itu, tidak ada hal romantis yang mereka berusaha lakukan. Namun dalam suatu momen, saat keduanya berada di Gardens of Versailles, keduanya secara spontan memperbaharui janji pernikahan mereka. Pada momen tersebut, mereka juga berjanji untuk menikah ulang setiap tahun di lokasi berbeda.

Kini sudah lebih dari satu dekade keduanya hidup berumah tangga dan telah menikah ulang 15 kali. Evan, 41 tahun dan Susan 39 tahun, mengaku mereka selalu dimabuk cinta.

“Aku tidak pernah berpikir aku akan selalu merasa bahagia seperti ketika aku menikah. Tapi ternyata dari 15 pernikahan yang aku lakukan, kebahagiaan yang aku rasakan sama bahkan lebih,” ujar Susan.

Susan dan Evan menikah ulang di berbagai tempat. Mulai dari airport, pantai, hotel, peternakan, kincir angin hingga di atas balon udara, keduanya mencoba melakukan pernikahan tersebut semenyenangkan mungkin. Pasangan bahagia itu juga sudah menikah ulang di lima gereja berbeda dan dengan 11 pendeta yang memimpin upacara pernikahan tersebut.

Ketika pernikahan mereka sudah memasuki 10 tahun, Evan dan Susan menikah lagi di gereja tempat pertama kali dulu mengikat janji sehidup semati. Keduanya membuat pernikahan tersebut lebih meriah ketimbang yang pertama, dengan kehadiran 125 tamu dan tiga anak mereka.

“Itu adalah pesta terbesar yang kami buat dan kami butuh enam bulan untuk mempersiapkannya. Biayanya sama seperti pernikahan sungguhan,” kisah Evan yang menggeluti dunia bisnis.

“Tapi bukan kemewahan atau pamer betapa bahagianya kami. Kami hanya ingin berbagi kebahagaiaan pernikahan kami dengan teman-teman,” tambahnya.

Pada 2012 ini, usia pernikahan Susan dan Evan adalah 16 tahun. Mereka berencana memperbaharui janji pernikahan mereka di saat istirahat pertandingan football.

Susan dan Evan sadar langkah yang mereka lakukan untuk mempertahankan pernikahan mereka membutuhkan biaya yang tidak sedikit. “Kami mungkin telah menghabiskan £ 75.000 untuk semua pernikahan kami. Tapi sebagian besar memang juga sekalian kami berlibur. Lagipula semuanya bukan soal berapa jumlah uangnya. Tapi soal bagaimana kami berusaha sekreatif mungkin dalam urusan menunjukkan cinta kami,” urai Evan.

(eny/eny)

Bersumber dari : Eny Kartikawati – wolipop

5 Permintaan Terpopuler Sebelum Orang Mati

Jakarta, Andaikan masih ada sisa waktu beberapa saat sebelum meninggal, tiap orang pasti punya permintaan terakhir. Berdasarkan survei di rumah sakit, keinginan terakhir yang paling sering diminta oleh pasien sekarat adalah bertemu hewan piaraan.

Survei tersebut dilakukan bukan pada pasiennya, melainkan pada para pekerja di sebuah perusahaan jasa bernama Help the Hospice. Perusahaan ini menyediakan layanan bagi para pasien sekarat untuk mewujudkan apapun yang menjadi keinginan terakhirnya.

Berdasarkan pengakuan para petugas yang disurvei, 60 persen klien atau pasiennya meminta dipertemukan dengan hewan piaraan yang sangat disayangi misalnya kucing atau anjing. Dari jenis permintaan lainnya, bertemu hewan piaraan paling banyak diminta oleh pasien sekarat.

Menghabiskan waktu dengan orang yang dicintai bahkan hanya menduduki peringkat kedua dengan 57 persen, sedangkan keinginan untuk hura-hura hanya 50 persen. Padahal ketika pasien itu meninggal, yang sangat berduka tentunya adalah teman-teman dan orang terkasih, bukan malah hewan piaraan.

Selengkapnya daftar 5 keinginan atau permintaan terakhir yang paling banyak disampaikan oleh pasien sekarat adalah sebagai berikut, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (11/10/2011):

1. Bertemu dengan binatang piaraan (60 persen)
2. Melakukan sesuatu yang romantis seperti kencan atau menikah (57 persen)
3. Pesta (50 persen)
4. Pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi (41 persen)
5. Mencicipi minuman kesukaan untuk terakhir kali (23 persen).

Sebagai penyedia jasa untuk memenuhi permintaan terakhir pasien yang sekarat, Help the Hospice sering menerima permintaan yang aneh-aneh. Misalnya ada pasien muda yang sangat ingin memiliki monyet sebelum meninggal, hingga menikahkan sepasang kekasih yang sama-sama sedang sekarat.

“Bagi orang yang sedang berhadapan dengan akhir kehidupan, hal-hal sepele bisa memberikan perbedaan yang sangat besar misalnya minum-minum bersama teman, menghadri pesta ulang tahun kerabat atau sekedar bertemu hewan piaraan,” ungkap Heather Richardson, salah satu pengurus Help the Hospice.

Keinginan terakhir pada setiap orang tentu berbeda-beda, ada yang sederhana dan ada juga yang susah diwujudkan. Seorang aktris dan presenter asal Kanada, Lynda Bellingham (63 tahun) misalnya, punya 5 keinginan sekaligus yang ingin diwujudkan sebelum meninggal.

“Sebelum mati, aku ingin dapat Oscar, menulis buku bestseller, membelikan anak-anakku rumah, mengajak suamiku keliling dunia hingga ajal menjemput dan yang terakhir menggelar pesta besar dengan orang-orang terdekat lalu mengatakan pada masing-masing dari mereka betapa aku sangat mencintai mereka,” kata Bellingham.

(up/ir)

Bersumber dari : AN Uyung Pramudiarja – detikHealth